More Custom Headers, Color Schemes, & Theme Improvements

The WordPress.com Blog

We want everyone on WordPress.com to be able to find the best theme possible for their blog. Something beautiful, amazing, and cool. A theme that makes you want to jump up, run your laptop next door, and show your neighbor your awesome blog. That’s why we love bringing you so many new themes, why we have over 150 themes for you to choose from, and why we have even more on the way. It’s also why every day you let us know different ways we could make all our existing themes just a little bit better. You contact us in support, add your suggestions in the forums, comment here, and — of course! — blog about it.

Because of all that we took as many of those little bits as we could and made our incredible collection of 150-plus themes even better for you.

More Custom…

View original post 323 more words

Advertisements

Sapa

Menyapa malam yang tak berujung

Kian rindu akan kasih sayang 

Membuai belaian semu sang surya

Menatap rindu peluh dalam dusta

Aq lelah

Aq melemah

Seakan bertapa dalam manisnya sang surya

Menapak tiap tapak ,elelah dalam pilu

Hanya ada air mata

Entah berapa kali rasa terpendam

tuk ucapkan rasa percaya

Semua seakan menghilang

Kabut membelah cerah sinar surys

Menapak malam yang tak gemintang

Menatap bulan yang kian redup

Dalam kesenggangan

HAti pilu…

Jujur kurindu

Sebuah hangat dalam diri

Menyapa malam kian sepii…..

Alhamdulillah yang tertunda

Pagi dingin menyelimut merahnya sang selimut diri. Hanya kicauan burung samar terdengar di balik pepohonan belakang istanaku. Kenalkan namaku adalah Septiayana Purnama, mahasiswi tingkat atas yang sedang galau akan nasip kedepannya. Seperti biasa, aku duduk termenung menyapa pagi di ruang tamu yang tak seberapa besar. Menatap langit-langit putih dan jejeran kursi jati coklat disana. Tiba-tiba Hp berdering…

Beep Beep…Tertera di layar, “Aku segera meluncur”

tanpa menunggu lama kubalas “O.K”

Yah dia akan datang pagi ini, berjanji padaku menyambangiku di istana kecilku. Lelaki yang selama ini bersamaku, menemani hari-hariku, baik kala air mata jatuh maupun senyumku terkembang. Dia yang mampu membuatku marah, jengkel, atau seketika berubah senyum yang menawan. Nico.

Kembali kutatap langit-langit, berharap ada pesan baru yang masuk membawa kabar baru. Ternyata penantianku tak lama…

Beep Beep…. Ku baca dengan seksama, tapi tak sesuai harapanku. Tertera jelas di layar, I’m not include here…. Tak lama berselang, Nico datang. Lumayan lama berbincang, q ingin jalan-jalan keluar menghirup udara pagi yang sempat tersesak. Aaahhh sudahlah, pikirku cuek… Entah q juga tak tahu apa aku lari dari sini atau hanya enggan memikirkannya.

Jam kembali berputar, enggan kembali ke waktu yang tlah kulalui. Aku berniat jalan-jalan pagi ini. Sepakat sudah didapat, kuajak kakak sepupuku menemaniku,jadilah kita bertiga memulai petualangan kuliner. Hal yang kurasa dapat menepis semua rasa ketika hati ku sedang gundah. Petualangan pertama dimulai dengan soto di daerah lereng merapi, lalu dilanjutkan ke area kota. Berhenti pada sebuah kafe yang menyediakan berbagai varian makanan ringan dan es krim. Yess!!! sesuai!!! passss!!!! ini yang aku inginkan.

Pilih-pilih dan ku bilang

“mas tolong es krim coklat 1, vanilla 1, mix 1, kentang goreng 1.”

“ada lagi mb??”, tanya counter kafe itu

“eeehhhmmmm tidak…, terima kasih, berapa??”, tanyaku padanya

“semuanya jadi 17 rb mb”, jawab lelaki itu

Tak lama berselang pesanan kami datang. Namun, entah kenapa mataku tak berhenti melirik makanan di daftar menu itu… Yah… Banana Split bertengger manis dengan es krim diatasnya, tergiurr….

“Mas, tolong minta banan split 1 dan kentang goreng 1”, menyerah pada gambar itu.

Lumayan lama kami berbincang di kafe itu, membicarakan ini itu. Merasa sudah cukup puas dengan semua makanan itu, kami pun pulang. Sesampai di rumah matahari sudah condong ke barat. Ibuku hanya bertanya seadanya, dari mana, dan bla bla bla. Ku hampiri laptopku, kubuka dan kupasang modem kecilku, entah kenapa ku ingin membuka emailku sore itu.

Klik… Klik… tombol sana sini kupencet dan mozilla sudah terbuka. Lincah jariku menari menuliskan alamat emailku pada layar komputer mini itu.

Terbuka… kubaca satu demi satu pesan masuk dan…

“JINC”, tertera manis diurutan ketiga kotak masukku….

“Tidak, apakah aku salah baca??”, ku coba yakinkan diriku

“Apakah ini hanya mimpi, tidak, pasti inibohonh”, batinku lirih…

Perlahan kubuka mail itu…

Tertera…

“Berikut kami kirimkan abstract acceptance letter saudara. Harap segera mengirimlkan naspub dengan ketentuan, Font times new romans 12, maksimal 2500-3000 kata termasuk referensi (penulisan referensi dengan sistem vancouver). Kami tunggu ya sampai 30 September. Terima kasih”

“Apakah tandanya ini adalah penerimaan penelitianku??”,batinku…

Masih dengan muka yang tak percaya ku bilang pada diriku, “Ya Rabb, inikah rencana indahmu?? inikah??”.

Teriakku tak dapat kutahan…

“Ma… I got it, Aku dapat kesempatan itu!!!!”.

Dengan tergopoh ibuku keluar dan berkata, “Apa towh, kamu kie kebiasaan teriak-teriak”.

Dengan muka senang tak terluapkan tuk dikatakan kubilang, “KTI ku ditrima Ma…, Alhamdulillah.”

Tak perlu waktu lama, langsung kuambil elepon genggamku, kupencet sebuah nomor tuk memastikan kabar itu, Bu Titih.

“Assalamualaikum”, suara disebrang yang slalu menentramkanku.

“Waalaikumsalam ibu, maaf  apakah ini benar, saya dapat email balasan, lalu prosedur selanjutnya bagaimna?”, tanyaku tak ada putusnya.

Beliau dengan bijak menerangkan tahap demi tahap….

Hanya mampu kujawab

“Ya bu… Terima kasih, Assalamualaikum”.

Malam menyapu kabar gembira itu, membawa angin segar dalam lamunku. Menyapa mimpi dalam terangnya diri. Kembali hembusan pagi menyapaku, dingin udara yang selalu kurindukan. Kali ini, kurenungi tiap detail-detail dalam hidupku. Seringku mengeluh pada Illahi Robbi, atau itu pertanda kurang bersyukur??. Sejak kecil aku dididik dalam nuansa persaingan, dalam pendidikan terutama. Step by step kulalui persaingan itu, mulai dari sekolah dasar dengan peringkat yang selalu no 2, 3, bahkan 4 hingga perguruan tinggi yang tak kudapatkan universitas kebanggaan ayahku kala itu. Aku selalu berfikir, Allah kenapa engkau memberiku seperti ini??, ini tak adil untukku. Aku ingin seperti ini dan ini, bukan seperti itu dan itu. Selalu kubayangkan aku duduk dalam kursi pesakitanku yang teramat, tapi… ternyata aku lupa bahwa pesakitan orang lain mungkin lebih sakit.

Ketika semua mimpiku berujung pada satu kata “DOKTER”, kata yang tak ingin aku tambah bagian depan atau belakangnya. Hanya satu DOKTER. Tapi itu juga tak kudapatkan, padahal aku tlah berjanji pada seseorang jika I will be a DOCTOR next. Seorang kakek yang teramat kucintai. Bahkan selama 4 taun ini, ragaku berada pada kata PERAWAT and I’m not a DOCTOR, kata-kata cita-cita itu melekat indah dikepalaku. Setiap kali kukenang masa-masa perjuanganku dan gagal, kembali air mata mengalir indah di rona pipi ini.

Tapi… Pagi ini aku sadar, betapa bodohnya aku tak kulihat rasa syukur itu dalam diriku. Bagaimana tidak, ketika semua berlomba tuk dapatkan 4 juta hanya tuk penuhi setoran tiap semester, aku hanya bersiap dengan secarik kertas bernilai TOEFL 476 atau lebih, maka tak perlu peluhku jatuh seperti mereka. Betapa bodohnya aku, ketika Rabb ku menggariskan itu padaku dan tak pernah sekalipun aku menangis terima kasih pada-Nya. Mungkin Dia memang menginginkan itu, bahkan memberiku hadiah yang tak semua orang dapatkan. Seperti kemarin, berjuta kupikirkan… apa yang sebenarnya Engkau gariskan padaku Rabb, Apa yang sebenarnya Engkau rencanakan??, kenapa ketika hatiku mantapmenatap ke depan ada-ada saja yang terjadi, kenapa???. Pikiran itu tak mampu lepas dalam kepalaku… Tetapi ternyata Ia tahu yang aku butuhkan. Dia selalu tahu apa yang aku BUTUHKAN bukan yang aku INGINKAN. TAk banyak yang dapat kesempatan tuk dapat berbicara dalam acara itu… yah… JINC 2011…

Mungkin sedikit terlambat tapi aku ingin katakan…

“TERIMA KASIH My LORD, Allah SWT”

“Alhamdulillah”

Untuk sebuah Alhamdulillah yang tertunda….

Penumbra di Kala Gerhana

malam menyandang rindu sang penyair. Kelabu kabut menata ulang tiap detail kepingan angan yang tercambuk. Aku bukan ingin hidup dalam egoisq, tapi ijinkan aku hidup dalam dewasaku. Menuai apa tiap benih yang ku tanam, bukan hanya menjadi penumpang atas diriku. Ini ragaku, ini jiwaku, aku berhak berjalan atas apa yang kedua kakiku langkahkan. Diriku kini tlah tumbuh, bukan lagi bayi yang tiap hari selalu disuapi. Makanku tak perlu lagi semangkok buur atau makanan kasar yang kau lumatkan. Kini aku memiliki gigi yang kuat, kaki yang mampu menopang, dan kedua tangan yang mampu menyuap sendok demi sendok makanan yang ku telan.

Memang kadang didi ni salah melangkah, tapi bukan berarti diri ini buta arah. Memang diri ini kadang berjalan dalam kegelapan, tapi bukan berarti diri ini tak ada lilin atau korek api yang terangi. Aku… Aku… Aku hanya ingin dimengerti, berjalan gontai melangkah. Kadang tak pelak aku menyandang beban yang ta ingin kubawa. Namun, lagi-lagi hanya air mata yang mampu buatku bertahan dalam penumbra istana yang kuhuni ini. Menyapa malam, tak kuat jiwa melayang dalam dinginnya angin malam. Membelok peri yang ingin menyelimuti istana penumbra yang dibuat gerhana. Untuk apa??? untuk apa semua emas atau perak yang slalu disuguhkan????. Tak ingin, tak ingin!!!!!, yang ku ingin… Biarkan akau terbang dengan sayapku dan jiwaku.

Bukan Sepeti layang-layang. Layang-layang yang terhempas dan terbang dengan angin yang bebas tapi terikat oleh si empunya. Mungkin si empu merasa senang, semakin tinggi layang-layang itu maka semakin hebat ia menyetir sang lelayang. Tapi, tahu kah?? jika si lelayang itu menyanyi dengan lidahnya mak ia akan berkata.

“Cukup!!! aku bukan mainan untukmu, yang slalu kau tertawai dengan terbangkanku lebih tinggi”

Yah… si empunya jua tak sadar, apakah itu akan menyakitinya atau tidak. Terbuat dari apakah benang lelayang itu?? emas kah?? perakkah??? tetapi saja, itu semua sama saja. Semuanya hanya seutas benang yang akan menyetir tiap liukkan sang lelayang. Atau  seperti mobil yang tanpa sopir atau sopir nya bukan si empunya. Pastilah si empunya juga tak merasa nyaman, dan berkata dalam hati.

“Aku bisa menyetirnya sendiri, kenapa selalu kau yang ingin membawanya???”

Pastilah si pembawa mobil tidak menyadari apa kata hati si empu mobil, tapi toh sama saja, si empu tak bisa membawa mobil mewahnya. Yah itu semua karena Jiwa dan Raga tak bisa menyatu. Semua hanyakiasan, yang ada kehidupannya hanya semu. Bukan karena tak mampu untuk terbang, tapi selalu dikendalikan.

Penghapus Air Mata

siang yang panas saat…, ku berdiri terpayah dengan peluh yang berjatuhan. Ku dorong sepeda motorku memasuki jalan gang kecil yang tampak ramai. Pelan-pelan, santai, sambil membungkuk guna kesopanan juga tak lupa pasang senyum sebagai tanda keramahan. Pagar itu sudah terlihat, coklat mengkilat, sebuah kos-kosan putri didaerah seputaran universitas ternama di Jogja. Ku buka pelan sambil mendorong motor memasuki pelataran rumah yang rindang. Oh iya perkenalkan namaku adalah Ayu Putri Septina. Tampak unik memang, tapi entahlah sebuah nama unik pemberian orang tua. Aku suka sekali dengan situasi seputaran rumah ini, begitu tenang dan rindang, dengan pohon mangga besar di ujung sana menambah kesejukan dibawahnya. Di depannya terdapat taman mungil yang sengaja di buat oleh si empunya rumah, David. Dibawah pohon mangga terdapat taman kecil untuk kura-kura yang berukuran sedang. David, ia adalah teman priaku, begitu kata orang dewasa.

Perlahan kustandarkan motorku, mulai kuketuk pintu.

tok tok tok…

“Masuk, dik”, sahutnya dari balik pintu. Menyapaku dengan senyum hangatnya, aku suka!!.

“O.k, lagi ngapain mass?”, sambil masuk ke sebuah ruangan yang tak begitu besar. Hapal sudah setiap detail di ruangan ini. Sebuah tempat tidur bertengger manis di samping kiri pintu masuk dengan seperangkat komputer berada tepat di depannya. Di atas bed terdapat rak buku, buku yang hampir berdebu, entah dipegang di empunya atau tidak, termasuk Al-Quran disana. Samping komputer juga terdapat rak buku, entahlah. Tak lupa dibalik pintu, terdapat gantungan baju yang hampir penuh.

“Ganti ah lagunya, masak musik kek gitu”, protesku padanya. Aku lebih suka musik yang slow, kalem dan menenangkan. Berbeda dengan David, dia lebih suka musik keras, cenderung rok dan semacamnya.Mulai jari-jari lentikku menari indah di atas keyboard, mencari beberapa lagu melow.

“eehhmm… ayo jadi jalankah?,” tanyaku padanya.

“iya sabar… ku mau mandi bentar ya”, jawabnya padaku

“eehhmmm o.k, buruan kalo gt”, mulai tak sabar dengannya

David berjalan keluar, mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi di belakang pohon mangga belakang rumah. HP nya tergeletak manis di atas bed, aku ulai penasaran. Segera kubuka, melihat-lihat beberapa foto yang bertengger di galeri folder. Fotoku hanya ada satu, lainnya sudah dipindahkannya di dalam lepi kata David padaku sore itu. Mulai penasaran dengan aplikasi yang didalamnya, maklum saja hape ku tidak cukup canggih untuk menyimpan aplikasi-aplikasi modern seperti itu. Klik Klik folder terbuka, salah satu aplikasi chating menarik perhatianku. Klik… dan kutemukan… wanita itu, terlihat online. Kubiarkan sebentar, dia mengecat…

Punny: “hheeyyy”

David: “hheeyyy juga, tp mav nie bukan david”, sebenarnya itu aku hanya saja memakai id David

Punny: “oowwhh… ini sapa?”

David: “Tina”

Punny: “oowwhh… adeknya ya??? kalo gt salam aja ya buat David, makasii”

David: “Bukan, nie cew nya”

selesai chat dengan wanita itu, mulai kulihat chat mereka sebelumnya…

tak sengaja kubaca satu kalimat yang sangat mengagetkan, lebih menyakitkan lagi kalimat itu berasal dari David. Kata “Sayonk” bertengger manis di layar hape David.

“Haiii, lagi ngapain sich?’, tanya David selepas mandi

“Tak apa, hanya membuka beberapa aplikasi chat, owh iya si Punny oll tuch”, kataku padanya dengan muka tawar

“owh ya?? bilang apa?”, tanyanya

“liat aja, ada kata-kata sayonk disana”, jawabku dingin sambil sedikit menyindir

“owh iya, biasa dia suka bercanda”, katanya acuh tak mengerti arti muka ku saat itu

“tapi sayangnya, kata itu bukan dari Punny, tapi dari dirimu Vid”, kataku dengan muka memerah

Mukanya bingung tak mngerti apa yang kukatakan, kulempar hapenya kebadannya. Perlahan dia baca dan tertawa,.

“Hanya sebuah lelucon dik, g lebih”, katanya perlahan

“Aku g suka lelucon itu, kenapa harus Punny, apakah g ada kata-kata lain??”, dengan suara terbata dan serak yang tak bisa kusembunyikan lagi air mataku menetes deras.

Punny adalah wanita yang dahulu sempat menjadi masalah dalam hubungan kami, entah seberapa kuat dia membela wanita itu. Namun, aku dengan legowonya slalu mengalah. Tapi, tidak untuk kali ini, sudah lama aku bersabar, tak mamapu lagi kusembunyikan rona marahku padanya.

Dia, David, kembali memelukku dan berbisik menyuruhku untuk berhenti menangis. Dia juga berjanji tak akan mengulanginya lagi. Entah saat itu, perasaanku berbaur, aq memafkannya.

Namun, ternyata melupakan kejadian itu tak sepenuhnya mudah. Siang ku bisa tertawa dan tersenyum bercanda bersama teman, Malam tangisku meledak. Hanya 2 pasang mata yang mengerti, sepupuku Meria dan aku tentunya. Berulang dia membisikkan kata positif padaku, aku mendengarnya. Aku berbisik padanya…

“Tak adakah lelaki yang benar-benar setia dengan satu perempuan tanpa ada teman mesra disisinya Mbak?.”

“Cup cup… dia bukan lelaki seperti itu, aku yakin, tenanglah,” katanya menenangkanku.

Malam itu adalah malam puncak dimana kumerasakan sakitnya kata itu untukku. Tak sengaja, jariku tlah menari indah di key board hape ku dan ku tulis…

“kejadian yang membuatku jatuh terpuruk dalam kepedihan”

Tak kusangka ternyata dia juga membuka laman yang sama, jeda beberapa menit tertera di layar hapeku… 1 comment…

Lama ku berbincang dengannya dilaman itu, membahas hal itu. Akhirnya kutak kuat lagi. Kualihkan pembicarraan kami, tapi tak lama kemudian tertera di layar sebuah status…

“YOUR TEARS DONT FALL :-(”

Kubaca siapa penulisnya… dan ternyata itu adalah…

DAVID…

Batinku berucap… “Terima kasih atas pengertianmu, Sayank…”

adikku manis dengan kerudungnya

Malam menyapa insan…, mentari tlah kembali ke peraduan

ning malam ini seakan menyerbak rindu pada kehangatan Sang Khalik

ribuan malam seakan bergemulun pada dinginnya malam ini

kabut kemali menyeruak diperbukitan lereng Merapi ini…

kembali suara terdengar dari balik tirai kamar…

“Tidak!!!! aq malas menggunakannya, aq belum siap karenanya ma…”, teriak Nisa kepada Mama

Keisya Khoirunnisa, nama adikku yang manis ini. Nisa sebenarnya anak yang manis, baik, dan pintar. Hanya saja dia bergaul dengan banyak anak laki-laki sehingga ini membuatnya tumbuh menjadi anak yang tomboy. Berbeda dengan anak perempuan kebanyakan. lambat laun, sifat-sifat yang tumbuh dan menonjol hampir seperti laki-laki, keras dan apa adanya. Kata beberapa kerabat dekat, kami adalah saudara yang 180 derajat berbeda, baik dalam sifat maupun lihat secara fisik. Aku lebih condong ke arah feminim sedangkan dia, tidak sama sekali. Hal inilah yang sering kali membuat perbedaan dengan mama yang akhirnya akan terjadi cekcok yang tidak perlu. Ayah adalah seorang yang keras dan otoriter, dengan sifat yang seperti itu tak jarang adik manisku, Nisa, memberontak dengan cara dan jalan pikirannya sendiri. Dia merasa kedua orang tuaku selalu membedakannya denganku, baik dari prestasi maupun kasih sayangnya. Namun, tentu saja tidak demikian, dalam hal kasih sayang sebenarnya sama, tetapi dalam hal prestasi, kudapatkan itu dengan susah payah dan setengah mati.

Ini berawal dahulu, dulu sekali beberapa tahun yang lalu, ketika kami sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu, tak pernah sekalipun kudapatkan rangking 1 di dalam kelas, selalu berada diurutan 2, 3, 4, atau 5. Berbeda denganku, Nisa selalu mendapatkan urutan 1 sekalipun dia jarang belajar. Ayah selalu membandingkanku dengannya, mulai saat itu tekatku semakin besar untuk membuktikan pada ayah kalau aku pun bisa seperti Nisa. Hal itu pun terjadi ketika kelulusan kelas 6 SD, walaupun tidak berada di urutan 1, aku berhasil duduk di SMP terfavorit di Kabupatenku kala itu. Nilai-nilai selama di SMP pun tak begitu mengecewakan. Berbeda dengan Nisa, justru lambat laun prestasinya semakin menurun. SMP favorit tak berhasil didapatnya, Ayah semakin merasa kecewa. Mulai di bangku inilah sifat dan sikap Nisa berubah, teman-temanya pun juga lebih nakal.

Sejak kecil kami didik dalam lingkup agama, TPA adalah nilai wajib untuk kami. Maka tak heran, mama selalu memberikan wejangan untuk menjaga aurat, salah satunya dengan memakai kerudung. Aku memakai kerudung sebenarnya sejak duduk di bangku SMP kelas 3, karena ketika itu baru kudapatkan menstruasi pertama. Berbeda dengan Nisa, menstruasi pertama didapatnya selama duduk di bangku SD kelas 6. Oleh karena itu, Mama langsung menyuruhnya memakai kerudung ketika masuk kelas 1 SMP. Mama tidak mempertimbangkan apakah Nisa suka atau tidak dan siap atau tidak siap. Kala itu, Nisa hanya mengikuti apa yang disuruh Mama. Tentu saja, mama sangat gembira karena kedua putrinya mau memakai kerudung, hal wajib dalam agama kami. Ternyata itu tidak berlangsung lama, Nisa memakai keruudng hanya ketika di sekolah dengan model kerudung yang longgar sana sini, di daerah kami menyebutnya “kerudung poni lempar”.

Hal serupa terjadi sampai ia duduk di bangku SMA. Ia juga mulai menyukai acara-acara geng di sekolahnya. Aku mencoba untuk menyelami dan memahami sifatnya, tetapi sulit, sulit sekali. Aku tidak tahu lagi, Mama dan Ayah mulai menggunakan otoriternya untuk menyuruhnya. Namun, bukan positif yang didapat, malah negatif. Ia semakin memberontak, aku tak bisa lagi mengerti pola pikirnya. Banyak konsultasi, tetapi lagi-lagi hanya sebuah kecewa dan air mata. Rumah seakan menjadi neraka yang tak henti-hentinya. Keributan yang tak berkesudahan. Hilang akal sudah… semua Goyah. Pendapat yang berbagai macam membuatku menyerah dalam buaian rindu akan masa lalu. Ketika semuanya manis untuk dikenang.

Waktu terus berjalan, masa-masa SMA nya telah berlalu. Kini ia tlah duduk di bangku kuliah. Sekarang bahkan kerudung tlah menjadi bagian dari masa lalunya. Setelah kaos berbungkus kemeja lengan panjang dan celana jeans adalah kostum andalannya di kampus. Rambut terjuntai panjang diikatnya dikepala dan disembunyikannya dibalik helm INK nya. Terlihat seperti cowok, sempurna!!!. Namun, malam ini, dia terlihat begitu berbeda dengan kostumnya. Mama kembali memberinya ancaman tuk memakai kain persegi panjang tuk tutupi mahkota kepalanya.

“Kamu Nisa, mama mohon pakai kerudungmu atau kita tak kan pergi”, perintah mama

Nisa tetap pada pendiriannya, tidak mau dengan alasan belum siap. Mama mulai gerah dengan alasan-alasannya. Mata yang awalnya redup dan hangat berubah galak.

“Ia baiklah”, patuhnya pada Mama malam itu

namun sambil berbicara lirih, “Baguskah memakai kerudung dengan paksaan keluarga?”, tanyanya dalam ocehan lirih pada dirinya sendiri.

Kembali ia turuni tangga dengan kerudung manis abu-abu hitam, dengan muka masam dan cemberutnya yang khas. Namun kukatakan padanya sambil tersenyum…

“Manisnya adikku dengan kerudung itu”, kataku

sambil mengatakan dalam hatiku, “semoga tidak hanya malam ini adikku sayang”.

kebodohan

adakalanya penyesalan itu datang

ada kalanya rasa syukur itu timbul

tapi…

entah…

dulu aq yang terlalu bodoh!!!!

melepas semua yang tersisa…

kenapa begitu keras kepala

hingga tak memberi pilihan 1 2

semua hanya prioritas…

terlalu naif sungguh!!!!

sekarang…

baru sekarang…

aq tersakiti..

tapi…

semoga duri2 ini..

menjadi cambuk!!!

cambuk untuk bangkit

dan kalahkan mereka yang disana!!!

Previous Older Entries